Friday, 18th May 2012.

Posted on Sunday, 6th January 2008 by Auw Jimmy

Post to Twitter

Sabtu kemaren, gue ada janjian ama Jay (panggilan akrabnya) untuk ketemu S.Kom (panggilan akrabnya juga) untuk main ke studionya S.Kom. Kebetulan pagi gue kerja, jam 12 lebih langsung cabut dulu ke Fatmawati untuk menghadiri undangan dari Majalah Audio Lifestyle yang akan menguji dua speaker floorstander.

Dari Kelapa Gading gue cabut langsung deh. Naik tol ke arah Cawang. Berkat info dari Jay gue akhirnya nekad aja lewat tol lingkar luar (padahal gak pernah nih). Sialnya GPS gue running out of battery. Jadi buta deh gue (tapi uda sempet liat ancer-ancer-nya di software GPS sih, cuman gak ada guidance “take left” atau “turn right” karena GPS gue abis batere). Ya uda nekat aja terobos masuk tol. Untung jalan lancar. Gue keluar di pintu tol Dukuh 1 (bayar Rp 7500, anjrit mahal amit). Lalu lurus terus ke arah Pondok Indah. Keluar di Cipete/Pondok Labu. Untung lancar jalanan. Pas keluar, gue agak bingung mesti ambil lurus or kanan. Seperti biasa, pilihan pertama biasanya salah. Gue ambil lurus. Dan bener aja, pas gue telpon temen gue (tadi gak keburu telpon), katanya suruh ambil kanan. Sial! Akhirnya gue lurus sampe ke Lebak Bulus sono baru ketemu puteran. Mana macet pula! :(

Oke tidak berapa lama, sampe juga sih akhirnya ke tempat Majalah Audio Lifestyle yang berlokasi di Fatmawati sono. Silakan klik disini kalo mau tau acaranya.

Nah sekitar jam 5 sore, gue pamitan dari Fatmawati. Siap-siap ke Mangga Dua. Jalanan cukup macet di Fatmawati. Tapi setelah itu cukup lancar. Gue masuk tol dalam kota. Sekitar 20 menit aja sampe deh di Mangga Dua sono. Langsung ketemu Jay yang lagi makan sate padang. Bareng deh nyate dulu ama Jay. Abis itu langsung telpon S.Kom dan nunggu di ruko-nya dia.

Sekitar jam 7.30-an baru ngumpul ama S.Kom. Langsung aja Jay masang drum elektriknya dia (kebetulan belum di set). Kita juga setup piano Yamaha, mic, gitar, dan bass. Software-nya pake yang mur-mer aja Garage Band bawaan Mac (buset basic banget sih feature-nya). Cubase lagi dipesen kata S.Kom, belon nyampe. Akhirnya ya uda deh main-main hancur-hancuran. Gue paling bolot karena gak bisa main apa-apa huehuehue… Maklum terakhir main alat musik ya waktu SD… Ini aja lagi belajar drum ama Jay. Seleranya musik S.Kom sih selera ABG (Angkatan Babe Gue) banget, tapi ya uda lah yang penting “hancurnya”. Di bawah ini ada gambar drum elektrik “Pintech” yang kita pake beserta controller DTXpress.

drum.jpg

(more…)

Posted in Indonesia, Personal | Comments (8)


Posted on Thursday, 11th October 2007 by Auw Jimmy

Post to Twitter

Sang Buddha berbicara tentang sutra kasih yang mendalam dari orang tua dan kesulitan untuk membalasnya.

Ayah Dan Ibu adalah dua Buddha yang hidup dalam keluarga. Sutra ini adalah sutra tentang kebaikan hati orang tua dan bagaimana sulitnya untuk membalas budi baik mereka.

Demikianlah yang kudengar, suatu ketika Sang Buddha berdiam di Shravasti, di Hutan Jeta, di Taman Pelindung Anak-Anak Yatim Piatu dan Para Pertapa, bersama-sama dengan sekumpulan mahabhikshu, yang seluruhnya berjumlah 1250, beserta para bodhisattva, jumlah 38.000 semuanya.

Pada waktu itu, Sang Bhagava memimpin kumpulan besar itu dalam perjalanan menuju selatan. Tiba-tiba mereka menjumpai seonggok tulang manusia di samping jalan. Sang Bhagava berpaling menghampirinya, dan bersikap anjali dengan penuh hormat.

Ananda dengan bersikap anjali kemudian bertanya kepada Sang Bhagava, “Tathagata adalah guru agung dari triloka dan bapak yang terkasih dari makhluk-makhluk yang berasal dari empat jenis kelahiran. Beliau dihormati dan dicintai seluruh umat. Apakah sebabnya kini beliau menghormati seonggok tulang-tulang kering?” Sang Buddha berkata kepada Ananda, “Meskipun engkau adalah siswa-Ku yang utama dan telah cukup lama menjadi anggota Sangha, engkau masih belum mencapai pengertian yang jauh. Onggokan tulang itu mungkin adalah milik para leluhur pada kehidupan lampau. Mereka mungkin adalah orang tua-Ku dalam banyak kehidupan yang telah lalu. Itulah sebabnya sekarang Aku bersujud.” Sang Buddha melanjutkan pembicaran-Nya kepada Ananda, “Tulang-tulang yang kita lihat ini dapatlah dibagi menjadi dua kelompok. Yang satu adalah tulang-tulang lelaki, yang berat dan putih warnanya. Kelompok yang lain adalah tulang-tulang perempuan, yang ringan dan warnanya hitam.”

Ananda berkata kepada Sang Buddha, “Duhai Sang Bhagava, sewaktu para lelaki masih hidup di dunia mereka menghiasi badan dengan jubah, pengikat pinggang, sepatu, topi, dan pakaian-pakaian indah lainnya sehingga mereka jelas-jelas nampak perkasa. Ketika perempuan masih hidup, mereka mengenakan kosmetik, minyak wangi, bedak, dan wangi-wangian yang menarik untuk menghiasi tubuh mereka, sehingga dengan jelas menampakkan kewanitaannya. Namun tatkala para lelaki dan perempuan itu meninggal, semua yang tertinggal adalah tulang-tulang. Bagaimana seseorang dapat membedakannya? Ajarilah kami bagaimana membedakannya?”

Sang Buddha menjawab Ananda, “Ketika para lelaki ada di dunia, mereka memasuki rumah ibadah, mendengarkan penjelasan-penjelasan tentang Sutra-Sutra dan Vinaya, menghormati Sang Triratna dan menyebut nama-nama Buddha. Tatkala mereka meninggal tulang-tulangnya menjadi berat dan putih warnanya. Kebanyakan wanita dalam dunia mempunyai sedikit kebijaksanaan dan dipenuhi emosi. Mereka melahirkan dan membesarkan anak-anak, merasakannya sebagai kewajiban. Setiap anak bergantung pada air susu ibunya demi kehidupan dan makanan, dan susu adalah darah ibunya yang telah berubah. Setiap anak meminum 1200 galon susu ibunya. Oleh karena penghisapan dari badan ibu ini saat sang anak mengambil susu untuk makanannya, ibu menjadi letih dan menderita dan karenanya tulang-tulang mereka berubah menjadi hitam dan ringan.”

Ketika Ananda mendengar kata-kata ini, ia merasakan kepedihan dalam hatinya, karena seolah-olah telah tertusuk pedang dan karenanya ia diam-diam menangis. Ia mengatakan kepada Sang Bhagava, “Bagaimana caranya seseorang dapat membalas kasih dan kebaikan ibunya?”

Sang Buddha mengatakan kepada Ananda, “Dengarkanlah baik-baik, dan Aku akan jelaskan hal ini kepadamu dengan terperinci. Janin tumbuh dalam kandungan selama sepuluh bulan perhitungan Candra Sengkala. Alangkah menderitanya ibu selama janin berada di situ! Pada bulan pertama kehamilan, hidup janin tidaklah menentu seperti titik embun pada daun yang kemungkinan tidak akan bertahan dari pagi hingga sore, tetapi akan menguap pada tengah hari!”

“Pada bulan kedua, janin menjadi kental seperti susu kental. Pada bulan ketiga, ia seperti darah yang mengental. Pada bulan keempat, janin mulai terwujud sedikit seperti manusia. Selama bulan kelima dalam kandungan, kelima anggota badan anak (dua kaki, dua tangan, dan kepala) mulai terbentuk. Pada bulan keenam kehamilan, anak mulai mengembangkan inti keenam alat inderanya yaitu mata, telinga, hidung, lidah, badan, dan pikiran. Selama bulan ketujuh, ke-360 tulang-tulang dan persedian terbentuk, dan ke-84.000 pori-pori rambut juga telah sempurna. Dalam bulan kedelapan kehamilan, kecerdasan dan kesembilan lubang terbentuk. Pada bulan kesembilan, janin telah belajar menyerap berbagai zat makanan. Misalnya janin dapat menyerap sari buah-buahan, akar tanaman tertentu, dan kelima macam padi-padian.”

Bagian dalam tubuh ibu adalah organ yang padat, untuk fungsi menyimpan, dan ia tergantung ke arah bawah, sedangkan organ dalam yang hampa, berguna untuk mengolah, dan ia melingkar ke arah atas. Ini disamakan dengan ketiga gunung yang terbit dari permukaan bumi. Kita boleh menyebut gunung-gunung ini Puncak Sumeru, Gunung Karma, dan Gunung Darah. Gunung-gunung analogi ini bersatu, dan membentuk satu gugusan dengan puncak-puncak ke sebelah atas dan lembah-lembah ke sebelah bawah. Begitu jugalah, pembekuan darah ibu dari organ-organ dalamnya membentuk zat tunggal yang menjadi makanan anak. Selama bulan kesepuluh kehamilan, badan janin disempurnakan dan siap untuk dilahirkan. Bila anak itu sangat berbakti, dia akan lahir dengan telapak tangannya disatukan sebagai tanda menghormat dan kelahiran itu akan aman dan baik. Ibunya tidak akan terluka oleh kelahiran itu dan tidak akan menderita kesakitan. Tetapi, bila anak itu sangat pemberontak sifatnya hingga melakukan kelima perbuatan jahat terberat, maka dia akan merusak kandungan ibunya, mengoyak jantung dan hati ibunya, dan akan tersangkut di tulang-tulang ibunya. Kelahiran itu akan seperti sayatan seribu pisau atau seperti seribu pedang tajam menikam jantungnya. Itulah kesakitan-kesakitan yang terjadi dalam kelahiran anak nakal dan yang pembangkang.

Untuk menjelaskan lebih lanjut, ada sepuluh jenis kebaikan yang diperbuat oleh seorang ibu kepada anaknya:

  • Pertama, kebaikan di dalam memberikan perlindungan dan penjagaan selama anak dalam kandungan.
  • Kedua, kebaikan dalam menanggung penderitaan selama kelahiran.
  • Ketiga, kebaikan untuk melupakan semua kesakitan begitu anak telah dilahirkan.
  • Keempat, kebaikan dari memakan bagian yang pahit bagi dirinya dan menyimpan bagian yang manis bagi anak.
  • Kelima, kebaikan untuk memindahkan anak ke tempat yang kering dan dirinya sendiri berbaring di tempat yang basah.
  • Keenam, kebaikan menyusukan anak pada payudaranya dan memberi makan dan membesarkan anak.
  • Ketujuh, kebaikan dalam membersihkan yang kotor.
  • Kedelapan, kebaikan dari selalu memikirkan anak bila dia berjalan jauh.
  • Kesembilan, kebaikan karena kasih sayang yang dalam dan pengabdian.
  • Kesepuluh, kebaikan karena rasa welas asih yang dalam dan simpati.

(more…)

Posted in Indonesia, Personal | Comments (0)


Posted on Thursday, 23rd August 2007 by Auw Jimmy

Post to Twitter

Kebutuhan komunikasi memang tidak bisa dipisahkan lagi dari aktivitas sehari-hari. Kala kita pergi ke luar negeri, tentu komunikasi sebaiknya tidak terputus (siapa tahu Anda mendapatkan telepon penting dari kerabat Anda). Terlebih lagi hampir semua operator sudah membuka fasilitas roaming di luar negeri tanpa perlu banyak melakukan proses administrasi. Segala kemudahan ini tentunya membuat kita lebih nyaman untuk berkomunikasi di luar negeri.

Namun, kemudahan dan kenyamanan ini harus dibayar dengan harga yang cukup tinggi. Umumnya, satu operator bekerja sama dengan beberapa operator di luar negeri dan kadang tarif lintas operator ini tidaklah sama. Beberapa operator ada yang menawarkan tarif yang lebih murah dari operator lainnya, walaupun mungkin tidak terlalu signifikan.

Berikut ini, saya memberitahukan pengalaman saya dengan operator Satelindo Matrix selama berpergian ke dua negara, Singapore dan Taiwan.

(more…)

Posted in Indonesia, IT/Gadget, Personal | Comments (13)


Posted on Tuesday, 21st August 2007 by Auw Jimmy

Post to Twitter

Ini pertama kalinya saya ke Singapore via Batam. Sering sih dengar cerita orang kalo ke Singapore via Batam itu cukup gampang and lebih murah. Jadi saya inisiatif untuk mencobanya.

Sebagai langkah awal, mari kita lihat perbandingan tarif untuk ke Singapore. Ada tiga alternatif yaitu:

  1. Bolak balik via Batam
  2. Pergi lewat Batam, pulang direct (dengan pesawat terbang)
  3. Bolak balik dengan pesawat terbang

Rekan saya (Gusdiharto Pratomo a.k.a Dodi) sudah membuat tabel perbandingan di website-nya. Kebetulan kita berdua sama-sama memiliki pujaan hati di negeri Singa sana ;) Gue kopi paste ya Dod… :D

LANGSUNG BATAM CHANGI BATAM
Tiket US$162 (Valuair) Rp.380.000 (Air Asia) + SGD$137 (Valuair) Rp.760.000 (Air Asia)
Fiskal Rp.1.000.000 Rp.500.000 Rp.500.000
Transport - Rp.70.000 (Taksi dr Hang Nadim ke Ferry) Rp.140.000 (Taksi)
Airport Tax Rp.100.000 Rp.30.000 Rp.60.000
Tiket Ferry - SGD$16 SGD$18
TOTAL Rp.2.558.000 Rp.1.898.000 Rp.1.518.00

* Data diambil akhir Juli 2007 * Kurs USD$1 = Rp.9000, SGD$1 = Rp.6000

Pernerbangan dari Jakarta ke Batam memakan waktu sekitar 1,5 jam atau kurang (saya tidak perhatikan jam). Saya menggunakan maskapai penerbangan yang paling populer karena murah yaitu AirAsia. Pesawatnya cukup enak, harganya pun cukup terjangkau. Kebetulan saya memesan tiket agak dekat dengan tanggal keberangkatan (dan juga termasuk high season), sehingga harganya cukup tinggi (sekitar Rp 500.000 sekali jalan ke Batam, sudah termasuk fasilitas Express Boarding seharga Rp 50.000).

Tambahan:
Bulan Agustus 2008 kemarin ketika saya ke Singapore via Batam, harga tiket ferry sudah naik ke sekitar S$ 26 sekali jalan.

(more…)

Tags: , , , , , , ,
Posted in Indonesia, Personal | Comments (56)


Posted on Friday, 1st June 2007 by Auw Jimmy

Post to Twitter

Ini post pertama gue yang pake bahasa Indonesia. Kenapa? Karena gue percaya yang baca post ini hanyalah orang Indonesia (kalo ada). Orang-orang bule sana sih ga penting deh untuk tau urusan kerjaan gue.

Gue cukup suprise ternyata berita kepindahan gue (keluar dari CHIP) ini sudah cukup banyak diketahui, bahkan sebelum gue send resignation letter gue ke beberapa orang yang gue anggap layak untuk gue inform. Surprisingly, banyak dari mereka yang uda tau :D Bahkan sampe tau gue akan pindah ke mana dan ngurusin apa… ck ck ck…

No problem sih buat gue… tapi heran aja, koq pada tau ya? Bener-bener tembok-tembok ini bertelinga deh… ;)

Gue juga mau ucapin terima kasih buat semua e-mail, SMS, atau bahkan yang telpon langsung (khususnya Chratz yang langsung telpon gue gara-gara dia pake BlackBerry jadi langsung terima e-mail resignation gue). Sorry kalo gue ga bisa reply semuanya, kadang bingung juga karena masih dalam tahap re-organisasi beberapa alamat gue nih sekaligus e-mail client yang gue pake.

(more…)

Posted in Indonesia, Personal | Comments (46)


Posted on Thursday, 15th March 2007 by Auw Jimmy

Post to Twitter

If you haven’t read my previous article, please click here. I discussed the mod of MX5021′s satellites. Now, it’s time for the electronic parts ;)

I opened the Altec MX5021 subwoofer yesterday. Here’s the picture of the board inside. We can see two big rectifier, some big capacitors (removed from the board), and some op-amps (all are ST4558C).

We have two chip for amplifier here, one is TDA7265 and other is TDA7295. Both from ST. One for driving the both satellite (TDA7265, 2×25 Watt), and one for subwoofer (TDA7295, 80 Watt).

Photo above shows the removed main capacitor. Well, they come from “well known brand”, Samxon. You can see the value, 4700 uF, 2200 uF, and 1000 uF. I remove them all.

(more…)

Posted in CD/DVD Review, DIY Audio, Indonesia, Personal | Comments (527)


Posted on Friday, 11th August 2006 by Auw Jimmy

Post to Twitter

Okay, okay. I’ve seen a lot of audio player enabeld phones review. But, most of them only evaluate the phone functionality, audio player interface, and etc… etc. I know that sound quality tends to be subjective (tested with ears), but it’s not a bad thing if we test the objective quality (tested with equipment), right?Few weeks ago, I borrowed two phones. One was the Nokia N91 and the other is Sony Ericsson W810i. Two are audio player enabled phone. So, let’s evaluate them.

For introduction, I don’t use sophisticated equipment like Audio Precision. It’s just a software named RMAA and a sound card as D/A. I have few cards like EMU 1820M and ESI Juli@. Both are professional cards. But for this test, I just use prosumer card the M-Audio Revolution 7.1. This card has flat enough response (+0.13, -0.07 dB, and >90 dB of noise, dynamic range, and stereo crosstalk @ 16bit/44.1 kHz). If possible, I will re-test with my EMU or Juli@, but I believe the result will not be different. The RMAA is well know an excellent software for this purpose. One time, the creator had done comparison with Audio Precision and the result was quite similiar. So, we simply can trust this software ;)

(more…)

Tags: , ,
Posted in DIY Audio, Indonesia | Comments (16)


About Some Audio Parts for Sale !!!